PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA MANIPULATIF DALAM PEMBELAJARAN KONSEP PERKALIAN PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IV (EMPAT) SDN TEGALPANJANG

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

MATA PELAJARAN METEMATIKA

 

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA

MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA MANIPULATIF

 DALAM PEMBELAJARAN KONSEP PERKALIAN

PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA

DI KELAS IV (EMPAT) SDN TEGALPANJANG

 

 

 

DISUSUN OLEH  :

YULI WIDIAWATI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya Ilmiah  dengan judul:

“PENGGUNAAN ALAT PERAGA MANIPULATIF DALAM PEMBELAJARAN KONSEP  PERKALIAN “

Penulis menyadari  dengan berbagai keterbatasan yang ada, baik  pengetahuan maupun kemampuan dalam menyajikan hasil penelitian ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan-perbaikan yang bertujuan untuk kesempurnaan lebih lanjut.

Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini tidak dapat terwujud tanpa adanya ridhla dari Allah SWT, serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu perkenankan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada :

  1. Bapak Hasan Sobari,S.Pd selaku Kepala Sekolah SDN Tegalpanjang yang telah menyetujui dan memberikan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan laporan PTK ini.
  2. Para guru SDN Tegalpanjang yang telah memberikan waktu serta motivasi kepada penulis untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

3.  Semua  pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya ilmiah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, Amiin.

Cariu,   Nopember  2009

Penulis

i

ABSTRAK

 

Penggunaan media pembelajaran pada dasarnya mengarah pada kemajuan atau peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan peningkatan mutu hasil belajar. Selain itu media pembelajaran akan lebih meningkatkan proses penerimaan siswa terhadap materi pelajaran sehingga materi pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam dan akhirnya membentuk pengertian dengan baik dan sempurna pada diri siswa.

Benda manipulatif dapat digunakan sebagai alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep matematika. Alat yang digunakan dapat berupa benda nyata misalnya lidi, kelerang digunakan untuk menanam konsep penjumlahan, penguranagan serta  perkalian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ii

DAFTAR ISI

                                                                                                                        Hal

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR …………………………………………………… i

ABSTRAK ………………..…………………………………………………   ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………..  iii

BAB I       PENDAHULUAN

  1.  Latar Belakang Masalah ………………………………….. 1
  2.  Rumusan Masalah …………………………………………. 4
  3.  Tujuan Penulisan…………………………………………… 4
  4.  Manfaat Penulisan …………………………………………            5
  5.  Sistematika Penulisan………………………………………………….. 5

BAB II   METODOLOGI

  1. Metode Penelitian ……………….………………………….  7
  2. Subjek Peneltian……………………………………………  7
  3. Bahan Ajar ……………………..…………………………..   8
  4. Instrumen  …..……………………………………………..   8
  5. Prosedur  ……………………………………………………………10
  6. Teknik Pengumpulan Data ………………………………………….    10
  7. Teknik Pengolahan Data………………………………….    11

BAB III  HASIL DAN PEMBAHASAN

  1.  Pembahasan Hasil Penelitian …………………………….    14

 

                                                                        iii

BAB IV   PENUTUP

  1. Kesimpulan ………………………………………………….  15
  2. Saran ………………………………………………………… 15

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                         iv

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Matematika adalah ilmu deduktif, artinya bahwa dalam matematika suatu generalisasi, sifat, teori, atau dalil belum dapat diterima kebenarannya sebelum dapat dibuktikan kebenarannya secara deduktif.

Russefendi (Suwangsih, 2006: 4) mengemukakan pendapatnya tentang matematika. Matematika terorganisir dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil dimana dalil-dalil setelah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum, karena itulah matematika sering disebut sebagai ilmu deduktif.

Seperti yang diungkapkan oleh Jonson dan Rissing (Marlina, 2007:5) Matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logis. Matematika adalah suatu bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide (gagasan) daripada mengenai bunyi. Matematika adalah pengetahuan terstruktur yang terorganisasikan sifat-sifat atau teori-teori dibuka secara deduktif berdasarkan pada unsur-unsur yang didefinisikan atau tidak didefinisikan, aksioma-aksioma, sifat-sifat atau teori-teori yang telah dibuktikan kebenarannya. Matematika adalah ilmu tentang pola keteraturan dan keharmonisan.

Konsep merupakan dasar bagi proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Konsep adalah sesuatu yang membantu mengatur pikiran kita. Konsep dapat menunjukkan objek, aktivitas atau benda hidup. Konsep juga dapat menggambarkan properti seperti tekstur (sususan) dan ukuran, contohnya adalah besar, merah, halus dan sebagainya.

Sampai saat ini tidak ada definisi yang tepat untuk menjelaskan pengertian dari konsep yang disepakati umum. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Moeliono, 2002 : 588), konsep diartikan sebagai sesuatu yang diterima dalam pikiran atau suatu ide yang umum dan abstrak. Gagne (Ruseffendi dalam Dhiasari, 2006: 15) menyatakan pengertian konsep dalam matematika sebagai ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan objek-objek kedalam contoh dan bukan contoh. Sedangkan pengertian konsep menurut Rosser (Dhasari, 2006:15) adalah sebuah abstraksi yang mewakili suatu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan dan hubungan yang mempunyai atribut yang sama.

Berkaitan dengan uraian tentang konsep di atas, Klausmeier (Dhiasari, 2006:16) menyatakan bahwa ada empat tingkatan pencapaian konsep yaitu:

  1. Tingkat Konkret
  2. Tingkat Identitas
  3. Tingkat Klasifikasi
  4. Tingkat Formal

Pemahaman matematika merupakan salah satu tujuan penting dalam pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan kepada siswa bukan sebagai hafalan tapi lebih jauh lagi. Pemahaman matematika juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru, karena guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai konsep yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan Hudaya (Rahayu dalam Dhiasari, 2006:17) yang menyatakan bahwa “Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami peserta didik.” Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa siswa kepada tujuan yang ingin dicapai yaitu agar bahan yang disanpaikan dipahami sepenuhnya.

Berdasarkan pernyataan di atas, siswa dikatakan memahami suatu konsep atau paham terhadap konsep yang diberikan dalam proses belajar mengajar jika ia mampu mengemukakan atau menjelaskan suatu konsep yang diperolehnya berdasarkan kata-kata sendiri, tidak sekedar menghafal. Selain itu ia juga dapat menemukan dan menjelaskan kaitan suatu konsep dengan konsep lainnya yang telah diberikan terlebih dahulu.

Operasi perkalian pada hakekatnya adalah operasi penjumlahan yang dilakukan secara berulang. Karena itu untuk memahami konsep perkalian ini, penguasaan tentang konsep dan pengertian tentang penjumlahan termasuk keterampilan menghitung akan sangat membantu kearah itu. Hal ini dikarenakan operasi perkalian secara umum membutuhkan landasan pengertian operasi penjumlahan. Sebagaimana yang lazim telah digunakan, lambang untuk menyatakan perkalian antara dua bilangan atau lebih adalah dengan menggunakan lambang silang (X). Secara garis besar ada tiga definisi perkalian yang banyak digunakan yaitu definisi himpunan, definisi susunan, dan definisi hasil silang. Pada definisi hasil himpunan, perkalian 3 X 2 adalah sifat bilangan dari sebuah himpunan yang merupakan gabungan dari tiga himpunan yang saling asing dan mempunyai sifat bilangan 3.

Dalam proses belajar mengajar alat peraga mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dengan komponen-komponen lainnya, karena pada dasarnya media berperan untuk meningkatkan kualitas siswa. Menurut Hamalik (Marlina, 2004:22) alat, metode dan teknik dapat mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Dari pernyataan tersebut media dapat berbentuk alat, metode ataupun teknik mengajar yang dapat membawa suatu pesan pembelajaran.

Media pembelajaran adalah suatu atau seperangkat alat yang merupakan saluran atau jembatan yang berfungsi untuk menyampaikan suatu pesan/informasi dari sumber pesan ke penerima pesan.

Penggunaan media pengajaran dapat membantu siswa untuk belajar sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai secara efektif dan optimal, Menurut Sudjana (Marlina, 2004 : 23) media pembelajaran memiliki beberapa manfaat, diantaranya:

  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar siswa.
  2. Bahan pelajaran akan lebih baik, menarik dan jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami para siswa dan meningkatkan penguasaan siswa terhadap tujuan pengajaran.

Dari uraian tersebut di atas dapat dilihat bahwa penggunaan media pembelajaran pada dasarnya mengarah pada kemajuan atau peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan peningkatan mutu hasil belajar. Selain itu media pembelajaran akan lebih meningkatkan proses penerimaan siswa terhadap materi pelajaran sehingga materi pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam dan akhirnya membentuk pengertian dengan baik dan sempurna.

Benda manipulatif dapat diartikan sebagai alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep matematika. Alat yang digunakan dapat berupa benda nyata misalnya lidi, kelerang digunakan untuk menanam konsep bilangan, kubus digunakan untuk menjelaskan konsep titik, ruas garis, daerah bujur sangkar. Benda-benda bidang beraturan digunakan untuk menanamkan konsep pecahan. Benda-benda seperti gelang cincin digunakan untuk menanamkan konsep lingkaran.

Keuntungan dari penggunaan alat peraga benda konkrit adalah siswa dapat memanipulasi atau dapat mengoperasikan sendiri, sedangkan kelamahannya adalah alat peraga tersebut tidak dapat disajikan dalam bentuk baku. Tidak selamanya benda konkrit, gambar atau diagram dalam pengajaran berfungsi sebagai alat peraga, tetapi mungkin benda atau gambar tersebut berfungsi sebagai media alat (media) atau berfungsi sebagai alat pengajaran matematika atau dapat pula tidak mempunyai arti apa-apa. Jadi pemakaian benda konkrit dalam pengajaran matematika harus sangat hati-hati.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Sejauhmana efektivitas penggunaan alat peraga manipulatif pembelajaran matematika  untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep perkalian ?
  2. Bagaimana sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga?.
  3. C.    Tujuan Penulisan

Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis memiliki tujuan sebagai berikut :

  1. Tujuan Umum
    1. Meningkatkan minat belajar siswa pada pembelajaran matematika terutama untuk konsep perkalian
    2. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa.
    3. Memanfaatkan benda-benda disekitar lingkungan sekolah dan siswa dalam pembelajaran matematika.
    4. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penulisan karya ilmiah  ini adalah :

  1. Ingin mengetahui efektivitas penggunaan alat peraga manipulatif dalam pembelajaran matematika dalam rangka  meningkatkan pemahaman konsep perkalian.
  2. Sikap siswa  terhadap  pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga manipulatif.
  3. D.    Manfaat Penulisan
    1. Manfaat bagi siswa
      1. Agar siswa lebih berminat dalam belajar matematika.
      2. Agar siswa berpeluang untuk bereksplorasi menemukan konsep.
      3. Konsep pembelajaran akan lebih bermakna
      4. Bagi guru
        1. Agar guru terampil melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga yang sesuai dengan tuntutan kurikulum.
        2. Agar guru dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran.
        3. Agar guru dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa secara optimal.

E.  SISTEMATIKA PENULISAN

Penulisan laporan penelitian yang merupakan tugas akhir ini terdiri dari lima bab yaitu :

BAB I                         PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat, serta dan sistematika penulisan.

 

BAB II            METODOLOGI

Bab ini berisi tentang metode penelitian, subjek penelitian, bahan ajar yang digunakan, instrumen penelitian, prosedur penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik pengolahan data.

BAB III          HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang pembahasan hasil dan pembahasan penelitian

BAB IV          PENUTUP

Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran-saran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODOLOGI

  1. A.    Metode Penelitian 

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian  adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) atau sering disebut PTK, karena metode ini menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalme guru dalam proses belajar mengajar di dalam kelas dengan melihat berbagai indikator  keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa. Penelitian ini dilakukan oleh guru dan hasilnya dapat dikembangkan sebagai alat pengembangan kurikulum, pengembangan sekolah, dan pengembangan keahlian mengajar.

Tujuan penelitian ini adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar, maka tujuan itu dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternatif dalam memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di dalam kelas. Fokus penelitian terletak pada tindakan-tindakan altenatif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan dan dievaluasi apakah tindakan-tindakan alternatif itu dapat memecahkan persoalan proses pembelajaran yang dihadapi guru.

Penelitian  dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari empat tahap, yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).

  1. B.     Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Tegalpanjang  Kecamatan Cariu  Kabupaten Bogor,  yang berjumlah 19 siswa, yang terdiri atas 12 orang siswa laki-laki dan 7 orang  siswa perempuan. Sebagai pertimbangan dan alasan  pemilihan subjek adalah sebagai berikut:

  1. SDN Tegalpanjang  Kecamatan Cariu adalah tempat penulis bekerja sehingga diharapkan tidak menganggu pekerjaan sehari-hari penulis.
  2. Mempermudah perumusan masalah yang diteliti,  karena merupakan masalah yang dialami sendiri oleh peneliti.
  3. Ingin menerapkan pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga yang manipulatif.
  4. Subjek penelitian adalah siswa yang sehari-hari dihadapi oleh penulis, sehingga penulis lebih memahami karakteristik subjek.
  5. Ingin meningkatkan layanan pembelajaran, sehingga siswa terpacu meningkat prestasi belajarnya.
  6. C.    Bahan Ajar

Winkel (1999) mendefinisikan bahan ajar adalah materi pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan instruksional yang dapat berupa macam-macam bahan seperti naskah, persoalan, gambar, slide, isi videocassette dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini setiap siswa diberi bahan ajar berupa rangkuman materi, contoh soal beserta penyelesainya, dan latihan soal.

Bahan ajar dalam penelitian ini dibuat dengan memperhatikan indikator-indikator pemahaman yang diukur dalam diri siswa. Bahan ajar terdiri dari dua pokok bahasan. Pada siklus pertama bahan ajar yang dibuat adalah bahan ajar yang menyangkut luas daerah trapesium . Pada siklus kedua bahan yang dibuat adalah bahan ajar yang menyangkut masalah luas daerah jajarangenjang. Bahan ajar dibuat dengan memperhatikan kurikulum, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

  1. D.    Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan dua instrumen yang dirancang dan digunakan, yakni instrument pembelajaran yang terdiri atas  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan LKS. Sedangkan instrument pengumpulan data terdiri atas instrument berbentuk tes dan nontes. Instrument tes terdiri atas tes formatif dan tes sumatif. Tes formatif dilaksanakan setelah akhir siklus untuk satu subpokok bahasan. Tes ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan atau daya serap siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Sedangkan tes subsumatif berbentuk essai yang dilaksanakan untuk menguji  gabungan dari dua subpokok bahasan. Instrumen non tes terdiri atas lember observasi, jurnal siswa, angket, dan pedoman wawancara. Penjelasan mengenai instrumen nontes sebagai berikut:

  1. 1.      Observasi

Semua kegiatan yang ditujukan untuk mengenali, merekam, dan mendokumentasikan setiap indikator dari proses dan hasil yang dicapai (perubahan yang terjadi) baik yang ditimbulkan terencana maupun akibat sampingannya. Dalam penelitian ini jenis observasi yang digunakan adalah observasi terfokus, yakni maksud dan sasaran observasi telah ditentukan. Lembar observasi ini terfokus pada sikap siswa dalam pembelajaran, sikap guru, serta interaksi guru dan siswa, siswa dengan siswa  selama proses pembelajaran berlangsung. Data yang diperoleh melalui lembar observasi dimaksudkan untuk mengetahui proses selama pembelajaran berlangsung yang tidak teramati oleh peneliti. Data tersebut kemudian disusun, diringkas, dan diinterprestasikan.

  1. 2.      Jurnal

Jurnal diberikan kepada siswa setiap akhir pembelajaran. Jurnal ini berisi tentang kesan siswas setelah pembelajaran. Jurnal digunakan  untuk memperoleh gambaran mengenai tanggapan dan minat siswa terhadap pembelajaran dan dalam upaya perbaikan pada pembelajaran berikutnya.

  1. 3.      Angket

Teknik pengumpulan data dengan meyerahkan daftar pertanyaan untuk diisi responden. Responden merupakan orang yang memberikan tanggapan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti. Angket dilakukan secara tidak langsung, artinya peneliti tidak melakukan langsung bertanya jawab dengan responden, akan tetapi responden hanya menjawab sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang disediakan oleh peneliti. Instrumen ini digunakan untuk mengukur sikap siswa terhadap pembelajaran matematika melaui alat peraga.

  1. 4.      Pedoman Wawancara

Lembar wawancara digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa setelah proses  pembelajaran dan keinginan siswa mengenai pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga selanjutnya. Siswa yang akan melakukan wawancara kegiatan wawancara dipilih secara acak yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

E. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian adalah suatu proses yang berkesinambungan berlangsung secara terus menerus sampai tujuan yang akan dicapai berhasil. Prosedur penelitian meliputi :

  1. Orientasi lapangan dan obsevasi awal pembelajaran matematika
  2. Identifikasi masalah
  3. Perencanaan atau persiapan tindakan
  4. Pelaksanaan tindakan
  5. Evaluasi
  6. Analisis dan refleksi
  7. Pelaksanaan tindakan tercapai

F.  Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan pada setiap aktivitas siswa dan situasi yang berkaitan dengan tindakan penelitian yang dilakukan, yaitu dengan tes, observasi, jurnal, angket, dan wawancara. Tes formatif diberikan setiap akhir siklus untuk melihat sejauhmana ketercapaian target pembelajaran pada setiap siklus. Tes subsumatif diberikan pada akhir siklus secara keseluruhan untuk melihat apakah target pembelajaran pada siklus I dan siklus II, dan seterusnya tercapai atau tidak. Lembar observasi siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Observasi ini dilakukan oleh observer untuk melihat sejauhmana target pembelajaran dapat tercapai. Jurnal siswa diberikan pada stiap akhir pembelajaran. Angket diberikan kepada semua siswa pada akhir siklus pembelajaran secara keseluruhan. Wawancara dilakukan pada setiap akhir siklus terhadap siswa yang mewakili kelompok tinggi, sedang, dan rendah, serta terhadap observer.

 

 

 

Adapun teknik pengumpulan data dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut:

Tabel 3.1 Teknik Pengumpulan Data

No

Sumber Data

Jenis Data

Teknik Pengumpulan Data

Instrumen yang Digunakan

1

Siswa

Kemapuan pemahaman konsep matematika Pelaksanaan tes setiap akhir tindakan Tes

2

Siswa

Kesan dan sikap siswa terhadap pembelajaran Angket sikap siswa, wawancara Angket sikap siswa, wawancara

3

Guru

Pendapat guru terhadap pembelajaran Wawancara Pedoman Wawancara

4

Siswa dan Guru

Aktivitas siswa selama pembelajaran Obsevasi Lembar obsevasi

 

G.  Teknik Pengolahan Data

Prosedur pengolahan data dalam penelitian ini adalah :

  1. Kategorisasi Data

Data yang akan dianalisis dan direfleksi terlebih dahulu dikategorisasikan berdasarkan fokus peneitian. Data dalam penelitian ini memberikan gambaran tentang aktivitas dan ketuntasan belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa.

  1. Interprestasi Data
  1. a.      Menganalisis Data hasil Tes

Menganalisis data berupa tes hasil belajar siswa dari setiap siklus untuk mengetahui keberhasilan penelitian yang dilakukan.

Indikator keberhasilan penelitian yang telah dilakukan adalah  daya serap klasikal. Suatu kelas telah belajar tuntas bila di kelas tersebut telah tercapai 85 % siswa mencapai daya serap paling sedikit 65 %. Untuk mengitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

Persentase tingkat penguasaan = Jumlah skor total subjek   X 100%

                                                                   Jumlah skor Total Maksimal

Selain itu dilakukan analisis terhadap indikator Daya Serap Klasikal (DSK) dengan perhitungan persentase sebagai berikut :

Persentase DSK = å siswa yang memperoleh tingkatan penguasaan > 65 % X 100%

                                                            Jumlah siswa

Untuk kepentingan mengklarifikasi kualitas tingkat penguasaan dikelompokan menjadi kategori sangat baik, baik, cukup, kurang, dan jelek   dengan menggunakan skala lima (dalam Suherman dan Kusumah, 1990 : 272), yaitu sebagai berikut :

90 % < A < 100 % Sangat baik

75 % < B <   90 % Baik

55 % < C <  75 % Cukup

40 % < B <  55 % Kurang

C  <   40 % Jelek

  1. b.      Data lembar Observasi

Data yang diperoleh melaui lembar observasi dimaksudka untuk mengetahui proses selama pembelajaran berlangsung yang tidak teramati oleh peneliti. Data tersebut kemudian disusun, diringkas dan diinterpretasikan.

  1. c.       Menganalisis Jurnal Kesan Siswa

Menganalisis jurnal kesan dengan mengelompokan kesan siswa ke dalam kelompok pendapat atau komentar positif dan negatif. Dengan demikian kita dapat mengetahui pendapat siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga yang telah dilakukan.

  1. d.      Menganalisis Angket

Derajat penilaian siswa terhadap suatu pertanyaan dalam angket terbagi dalam 4 kategori Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).

Untuk selanjutnya skala kuantitatif tersebut ditransfer ke dalam skala kuantitatif. Untuk mengukur data angket digunakan rumus sebagai berikut:

P =               f____  X 100%         

                         n

Keterangan :          p = prosentase jawaban

f  = frekuensi jawaban

n = banyak responden

Selain dianalisis dilakukan pada interprestasi dengan menggunakan kategori persentase berdasarkan pendapat Kuntjaningrat (dalam Irmawanti, 2004 : 31) pada tabel berikut ini :

Tabel 3.2

Klarifikasi Interprestasi Perhitungan Presentasi

Besar Persentase

Interprestasi

00 %

01 % – 25  %

26 % – 49 %

50 %

51 % – 75 %

76 % – 99 %

100 %

Tidak ada

Sebagian kecil

Hampir setenggahnya

Setenggahnya

Sebagian Besar

Pada umumnya

Seluruhnya

 

  1. e.       Menganalisis Hasil Wawancara  dengan Siswa.

Menganalisis hasil wawancara dengan observer dan siswa. Data dianalisis secara deskriptif dengan mengelompokan berdasarkan kategori jawaban dari yang positif ke negatif. Dengan demikian kita dapat mengetahui pendapat observer mengenai pembelajaran konsep perkalian  dengan menggunakan alat peraga manipulatif.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis terhadap hasil penelitian, berikut akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran matematika mengunakan model pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga manipulatif yang telah dilaksanakan.

Pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa siswa tentang perkalian pada umumnya berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan pembelajaran  yang telah dibuat, berdasarkan hasil tes formatif dan tes subsumatif. Dari hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung terlihat bahwa aktivitas guru tidak pernah terlewat dilakukan adalah saat guru memberikan bimbingan kepada siswa dalam mengerjakan soal latihan. Bimbingan ini dilakukan untuk membantu siswa dalam menemukan konsep perkalian atau dalam memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesuiltan dalam mengerjakan LKS yang diberikan.

Pembelajaran matematika dengan mengunakan alat  peraga membuat aktivitas siswa menjadi lebih hidup. Hal ini terlihat pada semangat siswa lebih bersemangat dalam menjawab pertanyaan atau mengerjakan soal latihan yang diberikan oleh guru.

Dari hasil analisis jurnal kesan siswa terhadap pembelajaran menggunakan alat peraga pada umumnya siswa menyampaikan kesan yan positif. Pada umumnya siswa merasa senang dan menginginkan pada pembelajaran selanjutnya menggunakan alat peraga.

Secara umum pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga manipulatif pada pokok bahasan perkalian sangat efektif dan memberikan kontribusi yang berarti dalam peningkatan pemahaman perkalian.

 

 

 

BAB  IV

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Pembelajaran konsep perkalian dengan alat peraga manipulatif secara umum lebih menyenangkan dan lebih menghemat biaya daripada pembelajaran biasa yang yang hanya menerangkan konsep tanpa alat peraga, sehingga belajar lebih efektif dan siswa termotivasi untuk meningkatkan presstasi dalam belajar matematika. Berdasarkan hasil penelitian tentang pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga manipulatif dapat disimpulkan sebagai berikut

  • Penggunaan alat peraga manipulatif untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep perkalian di SDN Tegalpanjang terbukti efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa dan hasil belajar siswa.
  •  Sikap siswa terhadap pembelajaran menggunakan alat peraga manupilatif sebagian besar menunjukan sikap yang positif. Pada umumnya siswa menyatakan setuju terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga manipulatif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep perkalian.
  1. B.     Saran

Berdasarkan  uraian yang telah dikemukakan, maka penulis mengajukan beberapa saran, yaitu:

  1. Bagi Guru

Karena penerapan model pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika ini dapat memberikan kontribusi yang cukup tinggi dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa, maka para guru hendaknya mencoba menerapkan pembelajaran tersebut pada  pokok bahasan yang lain.

  1. Bagi Peneliti Lebih Lanjut

Mengingat manfaat yang diperoleh dari penelitian ini, disarankan bagi peneliti yang lain agar dilakukan penelitian dengan menggunakan alat peraga untuk pokok bahasan yang lain, jenjang sekolah yang berbeda, dan subjek yang lebih luas dan atau dengan metode penelitian lain.

DAFTAR PUSTAKA

 

Winataputra, Udin S, dkk (2007) Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : niversitas

Terbuka.

Adjie, Nahrowi. (2006). Pemecahan Masalah Matematika. Bandung: UPI Press.

 

Aryani, Kiki, (2007). Penggunaan Model Pembelajaran Matematika

Dengan Diskursus Multi Representasi (DMR) untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa. Skripsi, Tidak Diterbitkan.

 

Darmawan, Deni, (2006). Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung:

UPI Press.

 

Penelitian Tindakan Kelas. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru

 

Ruseffendi, E.T. (1984). Dasar-Dasar Matematika Modern dan Komputer Untuk

Guru. Bandung: Tarsito.

 

Ruseffendi, E.T, dkk. (1988). Pendidikan Matematika. Jakarta

 

Tinggih, Elca, (1972). Filsafat Kontruktifisme dalam Pendidikan. Yogyakarta:

Kanisius.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s