PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA MANIPULATIF DALAM PEMBELAJARAN KONSEP PERKALIAN PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IV (EMPAT) SDN TEGALPANJANG

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

MATA PELAJARAN METEMATIKA

 

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA

MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA MANIPULATIF

 DALAM PEMBELAJARAN KONSEP PERKALIAN

PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA

DI KELAS IV (EMPAT) SDN TEGALPANJANG

 

 

 

DISUSUN OLEH  :

YULI WIDIAWATI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya Ilmiah  dengan judul:

“PENGGUNAAN ALAT PERAGA MANIPULATIF DALAM PEMBELAJARAN KONSEP  PERKALIAN “

Penulis menyadari  dengan berbagai keterbatasan yang ada, baik  pengetahuan maupun kemampuan dalam menyajikan hasil penelitian ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan-perbaikan yang bertujuan untuk kesempurnaan lebih lanjut.

Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini tidak dapat terwujud tanpa adanya ridhla dari Allah SWT, serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu perkenankan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada :

  1. Bapak Hasan Sobari,S.Pd selaku Kepala Sekolah SDN Tegalpanjang yang telah menyetujui dan memberikan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan laporan PTK ini.
  2. Para guru SDN Tegalpanjang yang telah memberikan waktu serta motivasi kepada penulis untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

3.  Semua  pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya ilmiah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, Amiin.

Cariu,   Nopember  2009

Penulis

i

ABSTRAK

 

Penggunaan media pembelajaran pada dasarnya mengarah pada kemajuan atau peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan peningkatan mutu hasil belajar. Selain itu media pembelajaran akan lebih meningkatkan proses penerimaan siswa terhadap materi pelajaran sehingga materi pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam dan akhirnya membentuk pengertian dengan baik dan sempurna pada diri siswa.

Benda manipulatif dapat digunakan sebagai alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep matematika. Alat yang digunakan dapat berupa benda nyata misalnya lidi, kelerang digunakan untuk menanam konsep penjumlahan, penguranagan serta  perkalian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ii

DAFTAR ISI

                                                                                                                        Hal

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR …………………………………………………… i

ABSTRAK ………………..…………………………………………………   ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………..  iii

BAB I       PENDAHULUAN

  1.  Latar Belakang Masalah ………………………………….. 1
  2.  Rumusan Masalah …………………………………………. 4
  3.  Tujuan Penulisan…………………………………………… 4
  4.  Manfaat Penulisan …………………………………………            5
  5.  Sistematika Penulisan………………………………………………….. 5

BAB II   METODOLOGI

  1. Metode Penelitian ……………….………………………….  7
  2. Subjek Peneltian……………………………………………  7
  3. Bahan Ajar ……………………..…………………………..   8
  4. Instrumen  …..……………………………………………..   8
  5. Prosedur  ……………………………………………………………10
  6. Teknik Pengumpulan Data ………………………………………….    10
  7. Teknik Pengolahan Data………………………………….    11

BAB III  HASIL DAN PEMBAHASAN

  1.  Pembahasan Hasil Penelitian …………………………….    14

 

                                                                        iii

BAB IV   PENUTUP

  1. Kesimpulan ………………………………………………….  15
  2. Saran ………………………………………………………… 15

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                         iv

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Matematika adalah ilmu deduktif, artinya bahwa dalam matematika suatu generalisasi, sifat, teori, atau dalil belum dapat diterima kebenarannya sebelum dapat dibuktikan kebenarannya secara deduktif.

Russefendi (Suwangsih, 2006: 4) mengemukakan pendapatnya tentang matematika. Matematika terorganisir dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil dimana dalil-dalil setelah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum, karena itulah matematika sering disebut sebagai ilmu deduktif.

Seperti yang diungkapkan oleh Jonson dan Rissing (Marlina, 2007:5) Matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logis. Matematika adalah suatu bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representasinya dengan simbol, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide (gagasan) daripada mengenai bunyi. Matematika adalah pengetahuan terstruktur yang terorganisasikan sifat-sifat atau teori-teori dibuka secara deduktif berdasarkan pada unsur-unsur yang didefinisikan atau tidak didefinisikan, aksioma-aksioma, sifat-sifat atau teori-teori yang telah dibuktikan kebenarannya. Matematika adalah ilmu tentang pola keteraturan dan keharmonisan.

Konsep merupakan dasar bagi proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Konsep adalah sesuatu yang membantu mengatur pikiran kita. Konsep dapat menunjukkan objek, aktivitas atau benda hidup. Konsep juga dapat menggambarkan properti seperti tekstur (sususan) dan ukuran, contohnya adalah besar, merah, halus dan sebagainya.

Sampai saat ini tidak ada definisi yang tepat untuk menjelaskan pengertian dari konsep yang disepakati umum. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Moeliono, 2002 : 588), konsep diartikan sebagai sesuatu yang diterima dalam pikiran atau suatu ide yang umum dan abstrak. Gagne (Ruseffendi dalam Dhiasari, 2006: 15) menyatakan pengertian konsep dalam matematika sebagai ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan objek-objek kedalam contoh dan bukan contoh. Sedangkan pengertian konsep menurut Rosser (Dhasari, 2006:15) adalah sebuah abstraksi yang mewakili suatu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan dan hubungan yang mempunyai atribut yang sama.

Berkaitan dengan uraian tentang konsep di atas, Klausmeier (Dhiasari, 2006:16) menyatakan bahwa ada empat tingkatan pencapaian konsep yaitu:

  1. Tingkat Konkret
  2. Tingkat Identitas
  3. Tingkat Klasifikasi
  4. Tingkat Formal

Pemahaman matematika merupakan salah satu tujuan penting dalam pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan kepada siswa bukan sebagai hafalan tapi lebih jauh lagi. Pemahaman matematika juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru, karena guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai konsep yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan Hudaya (Rahayu dalam Dhiasari, 2006:17) yang menyatakan bahwa “Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami peserta didik.” Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa siswa kepada tujuan yang ingin dicapai yaitu agar bahan yang disanpaikan dipahami sepenuhnya.

Berdasarkan pernyataan di atas, siswa dikatakan memahami suatu konsep atau paham terhadap konsep yang diberikan dalam proses belajar mengajar jika ia mampu mengemukakan atau menjelaskan suatu konsep yang diperolehnya berdasarkan kata-kata sendiri, tidak sekedar menghafal. Selain itu ia juga dapat menemukan dan menjelaskan kaitan suatu konsep dengan konsep lainnya yang telah diberikan terlebih dahulu.

Operasi perkalian pada hakekatnya adalah operasi penjumlahan yang dilakukan secara berulang. Karena itu untuk memahami konsep perkalian ini, penguasaan tentang konsep dan pengertian tentang penjumlahan termasuk keterampilan menghitung akan sangat membantu kearah itu. Hal ini dikarenakan operasi perkalian secara umum membutuhkan landasan pengertian operasi penjumlahan. Sebagaimana yang lazim telah digunakan, lambang untuk menyatakan perkalian antara dua bilangan atau lebih adalah dengan menggunakan lambang silang (X). Secara garis besar ada tiga definisi perkalian yang banyak digunakan yaitu definisi himpunan, definisi susunan, dan definisi hasil silang. Pada definisi hasil himpunan, perkalian 3 X 2 adalah sifat bilangan dari sebuah himpunan yang merupakan gabungan dari tiga himpunan yang saling asing dan mempunyai sifat bilangan 3.

Dalam proses belajar mengajar alat peraga mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dengan komponen-komponen lainnya, karena pada dasarnya media berperan untuk meningkatkan kualitas siswa. Menurut Hamalik (Marlina, 2004:22) alat, metode dan teknik dapat mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Dari pernyataan tersebut media dapat berbentuk alat, metode ataupun teknik mengajar yang dapat membawa suatu pesan pembelajaran.

Media pembelajaran adalah suatu atau seperangkat alat yang merupakan saluran atau jembatan yang berfungsi untuk menyampaikan suatu pesan/informasi dari sumber pesan ke penerima pesan.

Penggunaan media pengajaran dapat membantu siswa untuk belajar sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai secara efektif dan optimal, Menurut Sudjana (Marlina, 2004 : 23) media pembelajaran memiliki beberapa manfaat, diantaranya:

  1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar siswa.
  2. Bahan pelajaran akan lebih baik, menarik dan jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami para siswa dan meningkatkan penguasaan siswa terhadap tujuan pengajaran.

Dari uraian tersebut di atas dapat dilihat bahwa penggunaan media pembelajaran pada dasarnya mengarah pada kemajuan atau peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan peningkatan mutu hasil belajar. Selain itu media pembelajaran akan lebih meningkatkan proses penerimaan siswa terhadap materi pelajaran sehingga materi pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam dan akhirnya membentuk pengertian dengan baik dan sempurna.

Benda manipulatif dapat diartikan sebagai alat untuk menerangkan atau mewujudkan konsep matematika. Alat yang digunakan dapat berupa benda nyata misalnya lidi, kelerang digunakan untuk menanam konsep bilangan, kubus digunakan untuk menjelaskan konsep titik, ruas garis, daerah bujur sangkar. Benda-benda bidang beraturan digunakan untuk menanamkan konsep pecahan. Benda-benda seperti gelang cincin digunakan untuk menanamkan konsep lingkaran.

Keuntungan dari penggunaan alat peraga benda konkrit adalah siswa dapat memanipulasi atau dapat mengoperasikan sendiri, sedangkan kelamahannya adalah alat peraga tersebut tidak dapat disajikan dalam bentuk baku. Tidak selamanya benda konkrit, gambar atau diagram dalam pengajaran berfungsi sebagai alat peraga, tetapi mungkin benda atau gambar tersebut berfungsi sebagai media alat (media) atau berfungsi sebagai alat pengajaran matematika atau dapat pula tidak mempunyai arti apa-apa. Jadi pemakaian benda konkrit dalam pengajaran matematika harus sangat hati-hati.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Sejauhmana efektivitas penggunaan alat peraga manipulatif pembelajaran matematika  untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep perkalian ?
  2. Bagaimana sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga?.
  3. C.    Tujuan Penulisan

Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis memiliki tujuan sebagai berikut :

  1. Tujuan Umum
    1. Meningkatkan minat belajar siswa pada pembelajaran matematika terutama untuk konsep perkalian
    2. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa.
    3. Memanfaatkan benda-benda disekitar lingkungan sekolah dan siswa dalam pembelajaran matematika.
    4. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penulisan karya ilmiah  ini adalah :

  1. Ingin mengetahui efektivitas penggunaan alat peraga manipulatif dalam pembelajaran matematika dalam rangka  meningkatkan pemahaman konsep perkalian.
  2. Sikap siswa  terhadap  pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga manipulatif.
  3. D.    Manfaat Penulisan
    1. Manfaat bagi siswa
      1. Agar siswa lebih berminat dalam belajar matematika.
      2. Agar siswa berpeluang untuk bereksplorasi menemukan konsep.
      3. Konsep pembelajaran akan lebih bermakna
      4. Bagi guru
        1. Agar guru terampil melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga yang sesuai dengan tuntutan kurikulum.
        2. Agar guru dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran.
        3. Agar guru dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa secara optimal.

E.  SISTEMATIKA PENULISAN

Penulisan laporan penelitian yang merupakan tugas akhir ini terdiri dari lima bab yaitu :

BAB I                         PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat, serta dan sistematika penulisan.

 

BAB II            METODOLOGI

Bab ini berisi tentang metode penelitian, subjek penelitian, bahan ajar yang digunakan, instrumen penelitian, prosedur penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik pengolahan data.

BAB III          HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang pembahasan hasil dan pembahasan penelitian

BAB IV          PENUTUP

Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran-saran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODOLOGI

  1. A.    Metode Penelitian 

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian  adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) atau sering disebut PTK, karena metode ini menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalme guru dalam proses belajar mengajar di dalam kelas dengan melihat berbagai indikator  keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa. Penelitian ini dilakukan oleh guru dan hasilnya dapat dikembangkan sebagai alat pengembangan kurikulum, pengembangan sekolah, dan pengembangan keahlian mengajar.

Tujuan penelitian ini adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar, maka tujuan itu dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternatif dalam memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di dalam kelas. Fokus penelitian terletak pada tindakan-tindakan altenatif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan dan dievaluasi apakah tindakan-tindakan alternatif itu dapat memecahkan persoalan proses pembelajaran yang dihadapi guru.

Penelitian  dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari empat tahap, yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).

  1. B.     Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Tegalpanjang  Kecamatan Cariu  Kabupaten Bogor,  yang berjumlah 19 siswa, yang terdiri atas 12 orang siswa laki-laki dan 7 orang  siswa perempuan. Sebagai pertimbangan dan alasan  pemilihan subjek adalah sebagai berikut:

  1. SDN Tegalpanjang  Kecamatan Cariu adalah tempat penulis bekerja sehingga diharapkan tidak menganggu pekerjaan sehari-hari penulis.
  2. Mempermudah perumusan masalah yang diteliti,  karena merupakan masalah yang dialami sendiri oleh peneliti.
  3. Ingin menerapkan pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga yang manipulatif.
  4. Subjek penelitian adalah siswa yang sehari-hari dihadapi oleh penulis, sehingga penulis lebih memahami karakteristik subjek.
  5. Ingin meningkatkan layanan pembelajaran, sehingga siswa terpacu meningkat prestasi belajarnya.
  6. C.    Bahan Ajar

Winkel (1999) mendefinisikan bahan ajar adalah materi pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan instruksional yang dapat berupa macam-macam bahan seperti naskah, persoalan, gambar, slide, isi videocassette dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini setiap siswa diberi bahan ajar berupa rangkuman materi, contoh soal beserta penyelesainya, dan latihan soal.

Bahan ajar dalam penelitian ini dibuat dengan memperhatikan indikator-indikator pemahaman yang diukur dalam diri siswa. Bahan ajar terdiri dari dua pokok bahasan. Pada siklus pertama bahan ajar yang dibuat adalah bahan ajar yang menyangkut luas daerah trapesium . Pada siklus kedua bahan yang dibuat adalah bahan ajar yang menyangkut masalah luas daerah jajarangenjang. Bahan ajar dibuat dengan memperhatikan kurikulum, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

  1. D.    Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan dua instrumen yang dirancang dan digunakan, yakni instrument pembelajaran yang terdiri atas  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan LKS. Sedangkan instrument pengumpulan data terdiri atas instrument berbentuk tes dan nontes. Instrument tes terdiri atas tes formatif dan tes sumatif. Tes formatif dilaksanakan setelah akhir siklus untuk satu subpokok bahasan. Tes ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan atau daya serap siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Sedangkan tes subsumatif berbentuk essai yang dilaksanakan untuk menguji  gabungan dari dua subpokok bahasan. Instrumen non tes terdiri atas lember observasi, jurnal siswa, angket, dan pedoman wawancara. Penjelasan mengenai instrumen nontes sebagai berikut:

  1. 1.      Observasi

Semua kegiatan yang ditujukan untuk mengenali, merekam, dan mendokumentasikan setiap indikator dari proses dan hasil yang dicapai (perubahan yang terjadi) baik yang ditimbulkan terencana maupun akibat sampingannya. Dalam penelitian ini jenis observasi yang digunakan adalah observasi terfokus, yakni maksud dan sasaran observasi telah ditentukan. Lembar observasi ini terfokus pada sikap siswa dalam pembelajaran, sikap guru, serta interaksi guru dan siswa, siswa dengan siswa  selama proses pembelajaran berlangsung. Data yang diperoleh melalui lembar observasi dimaksudkan untuk mengetahui proses selama pembelajaran berlangsung yang tidak teramati oleh peneliti. Data tersebut kemudian disusun, diringkas, dan diinterprestasikan.

  1. 2.      Jurnal

Jurnal diberikan kepada siswa setiap akhir pembelajaran. Jurnal ini berisi tentang kesan siswas setelah pembelajaran. Jurnal digunakan  untuk memperoleh gambaran mengenai tanggapan dan minat siswa terhadap pembelajaran dan dalam upaya perbaikan pada pembelajaran berikutnya.

  1. 3.      Angket

Teknik pengumpulan data dengan meyerahkan daftar pertanyaan untuk diisi responden. Responden merupakan orang yang memberikan tanggapan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti. Angket dilakukan secara tidak langsung, artinya peneliti tidak melakukan langsung bertanya jawab dengan responden, akan tetapi responden hanya menjawab sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang disediakan oleh peneliti. Instrumen ini digunakan untuk mengukur sikap siswa terhadap pembelajaran matematika melaui alat peraga.

  1. 4.      Pedoman Wawancara

Lembar wawancara digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa setelah proses  pembelajaran dan keinginan siswa mengenai pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga selanjutnya. Siswa yang akan melakukan wawancara kegiatan wawancara dipilih secara acak yang terdiri dari tiga kelompok, yaitu siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

E. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian adalah suatu proses yang berkesinambungan berlangsung secara terus menerus sampai tujuan yang akan dicapai berhasil. Prosedur penelitian meliputi :

  1. Orientasi lapangan dan obsevasi awal pembelajaran matematika
  2. Identifikasi masalah
  3. Perencanaan atau persiapan tindakan
  4. Pelaksanaan tindakan
  5. Evaluasi
  6. Analisis dan refleksi
  7. Pelaksanaan tindakan tercapai

F.  Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan pada setiap aktivitas siswa dan situasi yang berkaitan dengan tindakan penelitian yang dilakukan, yaitu dengan tes, observasi, jurnal, angket, dan wawancara. Tes formatif diberikan setiap akhir siklus untuk melihat sejauhmana ketercapaian target pembelajaran pada setiap siklus. Tes subsumatif diberikan pada akhir siklus secara keseluruhan untuk melihat apakah target pembelajaran pada siklus I dan siklus II, dan seterusnya tercapai atau tidak. Lembar observasi siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Observasi ini dilakukan oleh observer untuk melihat sejauhmana target pembelajaran dapat tercapai. Jurnal siswa diberikan pada stiap akhir pembelajaran. Angket diberikan kepada semua siswa pada akhir siklus pembelajaran secara keseluruhan. Wawancara dilakukan pada setiap akhir siklus terhadap siswa yang mewakili kelompok tinggi, sedang, dan rendah, serta terhadap observer.

 

 

 

Adapun teknik pengumpulan data dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut:

Tabel 3.1 Teknik Pengumpulan Data

No

Sumber Data

Jenis Data

Teknik Pengumpulan Data

Instrumen yang Digunakan

1

Siswa

Kemapuan pemahaman konsep matematika Pelaksanaan tes setiap akhir tindakan Tes

2

Siswa

Kesan dan sikap siswa terhadap pembelajaran Angket sikap siswa, wawancara Angket sikap siswa, wawancara

3

Guru

Pendapat guru terhadap pembelajaran Wawancara Pedoman Wawancara

4

Siswa dan Guru

Aktivitas siswa selama pembelajaran Obsevasi Lembar obsevasi

 

G.  Teknik Pengolahan Data

Prosedur pengolahan data dalam penelitian ini adalah :

  1. Kategorisasi Data

Data yang akan dianalisis dan direfleksi terlebih dahulu dikategorisasikan berdasarkan fokus peneitian. Data dalam penelitian ini memberikan gambaran tentang aktivitas dan ketuntasan belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan alat peraga terhadap hasil belajar matematika siswa.

  1. Interprestasi Data
  1. a.      Menganalisis Data hasil Tes

Menganalisis data berupa tes hasil belajar siswa dari setiap siklus untuk mengetahui keberhasilan penelitian yang dilakukan.

Indikator keberhasilan penelitian yang telah dilakukan adalah  daya serap klasikal. Suatu kelas telah belajar tuntas bila di kelas tersebut telah tercapai 85 % siswa mencapai daya serap paling sedikit 65 %. Untuk mengitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

Persentase tingkat penguasaan = Jumlah skor total subjek   X 100%

                                                                   Jumlah skor Total Maksimal

Selain itu dilakukan analisis terhadap indikator Daya Serap Klasikal (DSK) dengan perhitungan persentase sebagai berikut :

Persentase DSK = å siswa yang memperoleh tingkatan penguasaan > 65 % X 100%

                                                            Jumlah siswa

Untuk kepentingan mengklarifikasi kualitas tingkat penguasaan dikelompokan menjadi kategori sangat baik, baik, cukup, kurang, dan jelek   dengan menggunakan skala lima (dalam Suherman dan Kusumah, 1990 : 272), yaitu sebagai berikut :

90 % < A < 100 % Sangat baik

75 % < B <   90 % Baik

55 % < C <  75 % Cukup

40 % < B <  55 % Kurang

C  <   40 % Jelek

  1. b.      Data lembar Observasi

Data yang diperoleh melaui lembar observasi dimaksudka untuk mengetahui proses selama pembelajaran berlangsung yang tidak teramati oleh peneliti. Data tersebut kemudian disusun, diringkas dan diinterpretasikan.

  1. c.       Menganalisis Jurnal Kesan Siswa

Menganalisis jurnal kesan dengan mengelompokan kesan siswa ke dalam kelompok pendapat atau komentar positif dan negatif. Dengan demikian kita dapat mengetahui pendapat siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga yang telah dilakukan.

  1. d.      Menganalisis Angket

Derajat penilaian siswa terhadap suatu pertanyaan dalam angket terbagi dalam 4 kategori Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).

Untuk selanjutnya skala kuantitatif tersebut ditransfer ke dalam skala kuantitatif. Untuk mengukur data angket digunakan rumus sebagai berikut:

P =               f____  X 100%         

                         n

Keterangan :          p = prosentase jawaban

f  = frekuensi jawaban

n = banyak responden

Selain dianalisis dilakukan pada interprestasi dengan menggunakan kategori persentase berdasarkan pendapat Kuntjaningrat (dalam Irmawanti, 2004 : 31) pada tabel berikut ini :

Tabel 3.2

Klarifikasi Interprestasi Perhitungan Presentasi

Besar Persentase

Interprestasi

00 %

01 % – 25  %

26 % – 49 %

50 %

51 % – 75 %

76 % – 99 %

100 %

Tidak ada

Sebagian kecil

Hampir setenggahnya

Setenggahnya

Sebagian Besar

Pada umumnya

Seluruhnya

 

  1. e.       Menganalisis Hasil Wawancara  dengan Siswa.

Menganalisis hasil wawancara dengan observer dan siswa. Data dianalisis secara deskriptif dengan mengelompokan berdasarkan kategori jawaban dari yang positif ke negatif. Dengan demikian kita dapat mengetahui pendapat observer mengenai pembelajaran konsep perkalian  dengan menggunakan alat peraga manipulatif.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis terhadap hasil penelitian, berikut akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran matematika mengunakan model pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga manipulatif yang telah dilaksanakan.

Pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa siswa tentang perkalian pada umumnya berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan pembelajaran  yang telah dibuat, berdasarkan hasil tes formatif dan tes subsumatif. Dari hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung terlihat bahwa aktivitas guru tidak pernah terlewat dilakukan adalah saat guru memberikan bimbingan kepada siswa dalam mengerjakan soal latihan. Bimbingan ini dilakukan untuk membantu siswa dalam menemukan konsep perkalian atau dalam memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesuiltan dalam mengerjakan LKS yang diberikan.

Pembelajaran matematika dengan mengunakan alat  peraga membuat aktivitas siswa menjadi lebih hidup. Hal ini terlihat pada semangat siswa lebih bersemangat dalam menjawab pertanyaan atau mengerjakan soal latihan yang diberikan oleh guru.

Dari hasil analisis jurnal kesan siswa terhadap pembelajaran menggunakan alat peraga pada umumnya siswa menyampaikan kesan yan positif. Pada umumnya siswa merasa senang dan menginginkan pada pembelajaran selanjutnya menggunakan alat peraga.

Secara umum pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga manipulatif pada pokok bahasan perkalian sangat efektif dan memberikan kontribusi yang berarti dalam peningkatan pemahaman perkalian.

 

 

 

BAB  IV

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Pembelajaran konsep perkalian dengan alat peraga manipulatif secara umum lebih menyenangkan dan lebih menghemat biaya daripada pembelajaran biasa yang yang hanya menerangkan konsep tanpa alat peraga, sehingga belajar lebih efektif dan siswa termotivasi untuk meningkatkan presstasi dalam belajar matematika. Berdasarkan hasil penelitian tentang pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga manipulatif dapat disimpulkan sebagai berikut

  • Penggunaan alat peraga manipulatif untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep perkalian di SDN Tegalpanjang terbukti efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa dan hasil belajar siswa.
  •  Sikap siswa terhadap pembelajaran menggunakan alat peraga manupilatif sebagian besar menunjukan sikap yang positif. Pada umumnya siswa menyatakan setuju terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga manipulatif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep perkalian.
  1. B.     Saran

Berdasarkan  uraian yang telah dikemukakan, maka penulis mengajukan beberapa saran, yaitu:

  1. Bagi Guru

Karena penerapan model pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika ini dapat memberikan kontribusi yang cukup tinggi dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa, maka para guru hendaknya mencoba menerapkan pembelajaran tersebut pada  pokok bahasan yang lain.

  1. Bagi Peneliti Lebih Lanjut

Mengingat manfaat yang diperoleh dari penelitian ini, disarankan bagi peneliti yang lain agar dilakukan penelitian dengan menggunakan alat peraga untuk pokok bahasan yang lain, jenjang sekolah yang berbeda, dan subjek yang lebih luas dan atau dengan metode penelitian lain.

DAFTAR PUSTAKA

 

Winataputra, Udin S, dkk (2007) Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : niversitas

Terbuka.

Adjie, Nahrowi. (2006). Pemecahan Masalah Matematika. Bandung: UPI Press.

 

Aryani, Kiki, (2007). Penggunaan Model Pembelajaran Matematika

Dengan Diskursus Multi Representasi (DMR) untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa. Skripsi, Tidak Diterbitkan.

 

Darmawan, Deni, (2006). Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung:

UPI Press.

 

Penelitian Tindakan Kelas. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru

 

Ruseffendi, E.T. (1984). Dasar-Dasar Matematika Modern dan Komputer Untuk

Guru. Bandung: Tarsito.

 

Ruseffendi, E.T, dkk. (1988). Pendidikan Matematika. Jakarta

 

Tinggih, Elca, (1972). Filsafat Kontruktifisme dalam Pendidikan. Yogyakarta:

Kanisius.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA TENTANG PERUBAHAN LINGKUAN FISIK MELALUI PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BAGI SISWA KELAS IV DI SDN TEGALPANJANG

HALAMAN PENGESAHAN

 

 

 

1. Judul          : PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPA

TENTANG PERUBAHAN LINGKUAN FISIK

MELALUI PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BAGI SISWA KELAS IV DI SDN TEGALPANJANG

 

2. Peneliti        : Nama : Yuli Widiawati

NIP   : 198506152010012011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                              Cariu,  April 2010

Yang Mengesahkan

 

 

 

 

 

HASAN SOBARI,S.Pd

NIP : 196101011983051001

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRAK

Peningkatan hasil belajar siswa sangat tergantung pada metode pembelajaran dan alat peraga. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi pokok lingkungan fisik peneliti menggunakan lingkungan sekitar

Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah. Apakah dengan menggunakan lingkungan sekitr dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di kelas 4 SDN Tegalpanjang pada materi pokok lingkungan fisik.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pretasi belajar siswa pada materi pokok lingkungan fisik dengan menggunakan lingkunga sekitar

Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan metode pengumpulan data, diskusi, ceramah, tanya jawab, dan diskusi kelompok.

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan prosentase dan uji benda diperoleh kesimpulan sebagai berikut ternyata prestasi belajar siswa dalam materi pokok lingkungan fisik meningkat dengan menggunakanlingkungan sekitar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

                                                                                                                      Hal

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGSAHAN ……………………………………..…………………            i

ABSTRAK ………………..……….……………………………………………..……..ii

DAFTAR ISI …………………………..…………………………………….……..iii

BAB I       PENDAHULUAN

  1.  Latar Belakang Masalah …….……………………….…………………1
  2.  Rumusan Masalah ……………….………………..……………………1
  3.  Tujuan Penelitian……………….…………………………………………2
  4.  Manfaat Penelitian ……………………………………………..………2

BAB II   KAJIAN PUSTAKA

  1. Landasan Teori …………………….…………………………….……….3
  2. Kerangka Berfikir………………………………………………….……6
  3. Hipotesis ……………………..……………………………..…………….6

BAB III  PELAKSANAAN PENELITIAN

  1.  Setting Penelitian ………..…………………………………………………7
  2. Subyek Penelitian …………………………………………………………………….7
  3. Sumber Data ……………………………………………………………………………7
  4. Teknik Dan Alat Pengumpulan Data ………………………………………….7
  5. Validitas Data …………………………………………………………………………8
  6. Analisis Data ………………………………………………………………………….8
  7. Indikator Kinerja …………………………………………………………………….8
  8. Prosedur Penelitian …………………………………………………………………8
  9. Pengamatan ……………………………………………………………………………8
  10. Refleksi ………………………………………………………………………………..8

BAB IV   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian ……………………………………………………….9
  2. Pembahasan …………………………………………………………11

BAB V     KESIMPULAN DAN SARAN

  1.  Kesimpulan …………………………………………………………….17
  2. Saran ………………………………………………………………………………………17

DAFTAR PUSTAKA

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pendidikan mutu pendidikan merupakan focus perhatian dalam rangka memperbaiki kwalitas sumber daya manusia (SDM). Berbagai upaya untuk meningkatkan kwalitas pendidikan terus menerus dilakukan baik oleh pemerintah, lembaga pendidikan maupun masyarakat diantaranya dilakukannya upaya-upaya inovasi dibidang pendidikan dan pembelajaran

Proses belajar mengajar pelajaran IPA di sekolah dasar dilaksanakan tergantung pada kondisi sekolahnya, baik metodenya atau media mengajarnya. Secara umum pengajaran IPA masih disampaikan secara konversional dalam artian ceramah dan diskusi. Hanya sedikit yang menggunakan metode pendekatan permainan atau demonstrasi. Semua itu terkendala pada keterlambatan media pembelajaran, apalagi SD didaerah terpencil guru hanya mengandalkan sepenuhnya pada buku paket yang bersumber dari dinas pendidikan nasional atau departemen pendidikan kebudayaan atau buku teks lain.

Meskipun masalah pendidikan begitu kompleks, namun pada akhirnya dalam kondisi tertentu semua itu bermuara pada peranan guru dalam memainkan seluruh komponen pendidikan secara harmonis, yang akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Salah satu komponen peningkatan-peningakatan mutu di SD adalah sarana dan prasarana pendidikan temasuk didalamnya penggunaan media belajar pendidikan.

Kedudukan media dalam pembelajaran cukup menentukan, sebab meskipun seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran telah menguasai materi dengan baik dan sudah menggunakan metode yang tepat, tetapi jika tidak memanfaatkan media pembelajaran, terlebih lagi untuk SD, maka tujuan pembelajaran tidak dapat dicapai secara optimal.

Rendahnya prestasi yang diperoleh siswa disebabkan kurangnya penggunaan media pembeljaran.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini dilakukan. Disamping itu, penelitian seperti ini belum pernah dilakukan, terutama disekolah yang menjadi sasaran penelitian ini. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka peneliti mencoba melakukan upaya dengan memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran. Benarkah media lingkungan dapat meningkatkan hasil belajar?

B. Rumusan Masalah

Rendahnya prestasi belajar siswa pada pelajaran IPA di kelas IV SDN Tegalpenjang, dipengaruhi beberapa faktor yakni dari kemampuan professional guru, kemampuan siswa, sarana prasarana pendukung pembelajaran yang tidak kalah pentingnya adalah pengguanaan media pembeljaran dalam proses belajar mengajar. penggunaan media lingkungan pada pembelajaran IPA dikelas IV SDN Tegalpenjang masih kurang, sehingga berdampak pada rendahnya pencapaian prestasi belajar siswa. Untuk itu perlu diupayakan agar penggunaan media lingkugan dapat meningkatkan prestasi siswa kelas 4 SDN Tegalpenjang pada materi pokok penyebab perubahan lingkungan fisik.

C. Tujuan Penelitian

  1.         1.     Tujuan Umum
    1. Meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi pokok lingkungan fisik.
    2. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa.
  1.         2.     Tujuan Khusus
    1. Meningkatkan prestasi belajar siswa melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran pada materi pokok penyebab perubahan lingkungan fisik

D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis

-          Mendapatkan teori tentang cara meningkatkan prestasi belajar siswa melalui pemanfaatan lingkungan sekitar.

-          Sebagai dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya.

  1.  Manfaat Praktis

-          Bagi siswa akan memperoleh manfaat berupa meningkatnya hasil belajar, karena mereka lebih senang belajar dengan menggunakan media pembelajaran.

-          Bagi guru, merupakan motivasi untuk selalu menggunakan media pembelajaran , agar prestasi siswa dapat meningkat.

-          Bagi sekolah, sangat bermanfaat sebagai salah satu bagian dalam menyusun anggaran belanja yang memadai untuk membeli dan menyiapkan alat-media pembelajaran .

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. A.  Landasan Teori
    1. Hakekat Belajar Ilmu Pengetahuan Alam
      1. Hakikat Sains
  • Pengertian Sains:

Sain adalah ilmu yang saling berkaitan dengan kehidupan sehari – hari,serta memahami lingkungan alam, (tumbuhan, hewan, manusia, alam fisik dan lingkungan sekitarnya)

Sains adalah pengetahuan yang telah diuji kebenarannya melalui metode ilmiah ( hakekat Sains h.l)

Sains dipandang sebagai suatu cara atau metode untuk dapat mengamati sesuatu, dalam hal ini adalah dunia (Nash 1963 dalam buku hakekat Sains h.2)

  • Nilai-nilai sains

Sains mempunyai banyak nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam sains adalah sebagai berikut.

  • Ø Nilai-nilai sosial dari sains terdiri dari Nilai etika dan estetika, nilai moral humaniora, nilai ekonomi.
  • Ø Nilai-nilai Pedagogik/Psikologis dari saians terdiri dari sikap mencintai kebenaran, sikap tidak purbasangka, menyadari kebenaran ilmu tidak mutlak, keyakinan bahwa tatanan alam bersifat terataur, bersifat toleran terhadap orang lain, bersikap ulet, sikap teliti dan hati-hati, sikap ingin tahu, sikap optimis.
  1. Hakekat Mengajar

Hakekat mengajar menurut Pasaribu dan Simanjuntak(1982): Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak. Kalau pengertian dianut maka tujuannya adalah penguasaan pengetahuan oleh anak. Hal ini berarti anak pasif guru centered. Guru Berperanan, lagi bahan pelajaran bersifat intelektualitas.

Mengajar adalah suatu kegiatan mengorganisasi (mengatur) lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Kalau pengertian ini yang dianut maka pengertiannya Sama dengan pengertian mendidik. Guru Hanya membimbing (mengatur lingkungan) anak yang belajar untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.

  1. Hakekat Belajar

Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya. Belajar juga akan lebih baik, kalau subyek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik. Disamping difinisi tersebut , ada beberapa pengertian lai yang cukup banyak, baik dilihat secara mikro maupun secara makro, dilihat dalam arti luas atau pun terbatas. Dalam pengertian luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya, kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Relevan dengan ini maka ada pengertian bahwa belajar adalah “penambahan pengetahauan”(Sardiman, 1990: 22-23).

  1. Hasil belajar ilmu Pengetahuan Alam

Pada setiap tahap pengajaran ilmu pengetahuan alam, sudah mempunyai gambaran akan hasil-hasil yang diharapakan.

Mengembangkan tujuan pendidikan yang mencakup pengembangan pengetahuan, ketrampilan dan sikap, sesuai dengan tingkat kematangan anak. Sementara itu dalam mengembangkan materi ilmu pengetahuan alam diharapkan materi tersebut berfungsi dalam mencapai tujuan. Materi tersebut diurutkan secara logis dan sistematis. Demikian pula dalam melaksanakan pengajaran IPA diharapkan pelaksanaan tersebut mencapai hasil yang cukup memuaskan. Sejumlah harapan yang dirumuskan perlu diperiksa apakah harapan sudah terwujud atau belum dalam setiap tahap. Untuk keperluan itu diperlukan kegiatan penilaian. Penilaian itu dimaksudkan untuk memeriksa kesesuaian anatara apa yang diharapkan dan apa yang tercapai. Hasil penilaian tersebut dapat dipergunakan untuk memperbaiki dalam mendekatkan tujuan yang diinginkan terutama dalam materi IPA.

  1.  Metode Mengajar

a.  Metode Ceramah

  • Pengertian Metode Ceramah

Metode ceramah adalah Cara mengajar dengan ceramah, yang dapat dikatakan juga sebagai teknis kuliah, merupakan suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterampilan atau informasi, atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan (Strategi Belajar mengajar, Dra. Roestidjah, NIC 1991 h. 136)

Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa metode ceramah adalah penyampaian ilmu pengetahuan atau ketrampilan secara lisan.

  • Alasan Penggunaan Metode Ceramah

Alasan menggunakan metode ceramah adalah:

  • Sekolah tidak memiliki bahan bacaan tentang masalah yang Akan dibicarakan atau yang diajarkan.
  • Jumlah siswa yang terlalu banyak, tidak sesuai dengan media pembelajaran  yang tersedia.
  • Guru Memiliki keterampilan berbicara yanag dapat menarik perhatian siswa.
  • Guru yang sedang mengajar bermaksud membuat kesimpulan pelajaran yang baru diberikan.
  1. Metode Tanya Jawab
  • Pengertian Metode Tanya jawab.

Metode Tanya jawab adalah suatu tehnik untuk memberikan motivasi pada siswa agar bangkit pemikirannya untuk bertanya, selama mendengarkan pelajaran, atau guru yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, siswa menjawab.

Metode ini hampir mirip dengan metode diskusi hanya perbedaan dalam: cara, jenis pertanyaan yanag dikemukakan guru, dan sifat partisipasi yang diharapakan dari siswa. Dalam metode Tanya jawab, guru pada umumya berusaha menanyakan apa siswa telah mengetahui fakta tertentu yang sudah diajarkan atau proses pemikiran yang dipakai oleh siswa.

  • Tujuan Menggunakan Metode Tanya Jawab.

Tujuan menggunakan Metode Tanya jawab adalah:

  • Siswa dapat mengerti atau memahami tentang fakta yang dipelajari, didengar atau dibaca sehingga mereka memiliki pengetahuan yang mendalam tentang fakta tersebut.
  • Siswa mampu menjelaskan langkah-langkah berpikir atau proses yang ditimbulkan dalam memecahkan masalah.
  • Menyimpulkan atau mengikhtisarkan pelajaran atau apa yang dibaca. Dengan dibantu tanya jawab siswa akan tersusun jalan pikirannya sehingga mencapai perumusan yang lebih baik dan tepat.
  1. Metode Demontrasi

Demontrasi dapat dilakukan oleh Guru, orang lain atau anak, untuk memperlihatkan kepada seluruh kelas mengenai suatu proses tentang sesuatu seperti :

  • Apa yang terjadi pada tanah / pasir jika di guyur air
  • Apa yang terjadi pada tanah / pasir jika tertiup angin
  1.  Media pembelajaran
  • Pengertian Media pembelajaran

Pengertian media pembelajaran : Suatu media pembelajaran  adalah sebagai perantara, pengantar pesan dari pengirim pesan. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, media pembelajaran  adalah suatu yang dapat menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga terjadi proses belajar.

  • Macam-macam Bentuk Media pembelajaran

Menurut Rustaman (2003), media pembelajaran  berdasarkan jenisnya dapat dikelompokkan sebagai berikut.

  • Ø Media asli hidup seperti Lingkungan sekitar sekolah dengan kebun,halaman, taman dan kolamnya, Akuarium dengan ikan dan tumbuhannya, Terrarium dengan hewan darat dan tumbuhannya, kebun binatang dengan hewan yang ada, kebun percobaan, insektarium berupa kotak kaca yang berisi serangga.
  • Ø Media asli mati misalnya herbarium, taksidermi, awetan dalam botol, bio plastic dan diorama.
  • Ø Media asli benda tak hidup contohnya: berbagai contoh batuan mineral, kereta api, pesawat terbang, mobil, gedung dan papan temple.
  • Manfaat media pembelajaran

Secara umum media pembelajaran  mempunyai manfaat antara lain:

  • Ø Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
  • Ø Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra.
  • Ø Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran yang sedang berlangsung.
  • Ø Meningkatkan aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar.
  • Ø Mempertinggi daya ingat siswa terhadap pelajaran yang telah dipelajarinya.
  1. B.   Kerangka berpikir

 

 

 

 

  1. C.  Hipotesis Tindakan

Melalui penggunaan media pembelajaran  lingkungan nyata prestasi belajar siswa pada pokok bahasan sains pada kelas 4 dapat meningkat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Seting Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini berlangsung pada bulan  Maret sampai April  selama 4 minggu. Selama bulan Maret sampai April  dipilih karena waktu tersebut diperkirakan untuk memberikan materi penyebab perubahan lingkungan fisik. Disamping itu pada bulan tersebut kegiatan siswa yang berkaitan hari besar seperti proklamasi telah usai, sehingga kegiatan penelitian ini tidak terlambat dan dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkan.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Tegalpanjang. Karena selama 2 tahun berturut-turut pada SDN tersebut selalu dihadapkan pada masalah rendahnya prestasi belajar siswa pada materi penyebab perubahan lingkungan fisik.

B. Subyek Penelitian

Subyek penelitian pada penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas IV dan guru kelas yang mengajar IPA.

C. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Tegalpanjang dan guru kelas yang mengajar IPA. Data siswa yang diambil berupa tes hasil belajar, keaktifan siswa dan interaksi antara guru dengan siswa dalam proses belajar-mengajar serta kegiatan mengajar guru.

D. Tehnik dan Alat Pengumpulan Data

1. Tehnik pengumpulan data

Tehnik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan cara:

  1. Tes
  2. Observasi

2. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini berupa:

  1. Butir soal tes
  2. Lembar observasi siswa
  3. Lembar observasi guru

E. Validitas data

  1.              1.          Agar diperoleh data prestasi belajar siswa yang absah (valid) diperlukan adanya instrumen tes yang valid yang memuat sejumlah butir soal yang tepat mengukur penguasaan siswa tentang penyebab perubahan lingkungan fisik.
  2.              2.          Validitas data proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan metode tanya jawab, demontrasi yang menitikberatkan pada keaktifan siswa dalam belajar dengan optimalisasi proses observasi.

F. Analisis Data

  1. Prestasi belajar siswa dianalisa dengan analisis diskriptif komperatif yaitu dengan membandingkan nilai tes antar siklus dengan indikator kinerja.
  2. Hasil observasi dianalisa dengan analisis deskriptif.

G. Indikator Kinerja

Indikator kinerja dalam penelitian tindakan kelas ini berupa nilai rata-rata naik dari 7,5 menjadi 9,5

H. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan tiga siklus secara berkelanjutan. Setiap siklus dilakukan perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi dan evaluasi untuk mengetahui efektifitas tindakan. Pelaksanaan tindakan terintegrasi melalui proses pembelajaran yaitu:

  1. Siklus I

Siklus pertama dilakukan satu kali pertemuan dengan indikator menjelaskan kegunaan penyebab perubahan lingkungan fisik melalui metode ceramah dan tanya jawab.

  1. Siklus II

Siklus kedua dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya dengan indikator menjelaskan bagian-bagian penyebab perubahan lingkungan fisik, dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan demontrasi.

I. Pengamatan

Penelitian dilakukan secara kolaboratif dengan guru IPA lainnya. Pengamatan dilakukan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi.

Data berupa hasil obsevasi kegiatan guru dan keaktifan siswa, sedangkan prestasi siswa dijaring melalui tes formatif kemudian dibandingkan dengan hasil tes awal.

J. Refleksi

Data yang dikumpulkan dalam siklus pertama dianalisis, didiskusikan dengan para observer kemudian dideskripsikan. Hasilnya dijadikan sebagai bahan perencanaan untuk melaksanakan tindakan yang dimodifikasi dari siklus sebelumnya guna mencapai hasil yang baik

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penelitian

Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan pada setiap siklus, sebanyak dua siklus dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi pokok lingkungan fisik dengan menggunakan lingkungan sekitar dapat tergambar pada laporan hasil dan pembahasan yang diuraikan persiklus sebagai berikut.

1.Siklus 1

1.1 Persiapan Mengajar

Dari hasil observasi mengenai persiapan mengajar (instrumen observasi kegiatan guru) diperoleh gambaran bahwa persiapan mengajar yang dibuat guru belum menggambarkan kegiatan pembelajaran yang efektif dan kreatif. Kegiatan yang terlaksakan dalam proses belajar mengajar belum tergambar dalam persiapan mengajar.

1.2  Kegiatan Menerima Pelajar

Terlihat bahwa kesiapan siswa menerima pelajaran belum optimal, hal ini terbukti dengan banyaknya siswa yang tidak membawa buku paket IPA.

Jika dihitung prosentase rata-rata kesiapan siswa menerima pelajaran adalah 55% siswa membawa buku paket IPA dan 45 % siswa yang tidak membawa buku paket IPA.

1.3  Kegiatan Belajar Mengajar

Dari hasil observasi proses kegiatan belajar mengajar (instrumen observasi kegiatan siswa) diperoleh gambaran bahwa:

  1. Siswa banyak mencatat materi yang di kemukakan guru.
  2. Sedikitnya siswa yang mengajukan pertanyaan.
  3. Kurangnya siswa yang mengajukan pertanyaan.
  4. Kurangnya siswa yang mengangkat tangan.
    1. Kurangnya siswa yang menyanggah jawaban siswa lain.
    2. Kurangnya siswa yang lebih senang dengan belajar seperti itu.
    3. Banyaknya siswa yang mengganggu siswa lain.

Dari gambaran hasil obsevasi tersebut membuktikan kurang aktif dan kreatifnya siswa dalam proses belajar mengajar.

Guru Kurang memotivasi siswa terutama siswa-siswa yang terindentifikasi lamaban dalam menerima pelajaran karena siswa tersebut cenderung tertutup dan tidak menunjukkan aktifitas yang dapat melancarkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Sedangkan hasil pengamatan instrumen observasi kegiatan guru diperoleh hasil sebagai berikut.

a. Guru kekurangan waktu dalam menyampaikan pelajaran karena ketidak sesuaian alokasi waktu dengan luasnya materi .

b.  Kurangnya penggunaan media pembelajaran.

c.  Kurangnya guru memotivasi siswa sehingga proses belajar mengajar kurang efektif.

d.  Kurangnya guru membimbing siswa yang mengalami kesulitan sehingga kelas menjadi pasif.

e.  Guru kurang melibatkan siswa dalam pemanfaatan media pembelajaran sehingga murid kurang aktif .

1.4  Hasil Belajar

Setelah pembelajaran selesai maka dilakukan tes untuk mengukur kemampuan siswa waktu belajar. Skor rata-rata dari 54 siswa adalah 65. Hasil belajar dengan rata-rata sedang disebabkan karena kekurang aktifan siswa dalam proses belajar mengajar dan tidak adanya media pembelajaran.

1.5 Refleksi

Proses pembelajaran yang aktif dan kreatif dapat diwujudkan dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada baik berupa alat bantu atau media, kemampuan guru dan siswa. Hasil observasi pada siklus ini baik kegiatan guru maupun kegiatan siswa dijadikan bahan dalam menentukan tidakan selanjutnya yaitu:

  1. Persiapan mengajar yang dibuat belum menggambarkan pembelajaran yang aktif dan kreatif
  2. Kurangnya motivasi guru terhadap siswa.
  3. Kurangnya pemanfaatan media pembelajaran dalam menyampaikan materi.
  4. Alokasi waktu tidak sesuai dengan luasnya materi.
    1. Kurangnya metode proses belajar mengajar (hanya menggunakan ceramah dan Tanya jawab).

 

2.Siklus II

2.1   Persiapan Mengajar.

Dari hasil observasi menggambarkan pembelajaran yang dirancang adalah pembelajaran yang aktif dan kreatif.

Media pembelajaran /media yang digunakan serta cara penggunaannya dijelaskan secara rinci dalam persiapan mengajar. Sumber bahan pelajaran ditulis lengkap dalam persiapan belajar mengajar.

Pada siklus ini guru menetapkan satu indikator pembelajaran yaitu:     mendiskripsikan bagian-bagaian penyebab perubahan lingkungan fisik.

2.2    Kesiapan Menerima Pelajaran

Berdasarkan observasi kesiapan siswa menerima pelajaran menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat terlihat dari siswa membawa buku pelajaran IPA dari 75% menjadi 95%.

Siswa sudah tidak lagi sibuk sendiri karena siswa tertarik dengan mengamati jalannya proses demontrasi.

2.3    Kegiatan Belajar Mengajar

Dari hasil observasi proses kegiatan belajar mengajar menggunakan instrument observasi kegiatan guru dan kegiatan siswa diperoleh gambaran terjadi peningkatan semangat dan aktivitas siswa dari yang kurang aktif bertanya dan menanggapi pertanyaan guru maupun temannya. Peningkatan ini terlihat dari perubahan prosentase yaitu yang aktif menjadi 80 %, kenaikan aktifitas dan semangat siswa ini diduga merupakan hasil perubahan/perbaikan aktivitas guru antara lain

-   Memotivasi siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar

-    Guru berperan sebagai fasilitator dalam diskusi kelas sehingga terjadi interaksi yang tinggi antar siswa dalam hal menanggapi ide atau gagasan teman.

2.4  Hasil Belajar

Pada akhir sisklus II dilaksanakan tes untuk mengukur kemajuan siswa. Skor rata-rata seluruh siswa adalah 80 dibandingkan dengan skor rata-rata siklus I 65 terjadi peningkatan sebesar 2,5. Peningkatan ini diduga karena adanya lingkungan nyata sebagai media pembelajaran  dan adanya metode demontrasi.

2.5     Refleksi

Analisis terhadap hasil observasi, tes tersebut menyimpulkan bahwa pembelajaran secara umum mengalami peningkatan kreatifitas guru dan keaktifan siswa. Siklus berikutnya perlu dilakukan untuk meningkatkan aktifitas guru dan siswa yang masih kurang, kemudian meningkatkan skor rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan jenis soal yang disukai.

2.6     Wawancara Guru dengan Siswa

Setelah melihat hasil belajar siswa yang cukup tinggi pada siklus ini, guru melakukan wawancara singkat dengan siswa. Hasilnya antara lain:

a. Guru menanyakan mengapa hasil pos testnya tinggi…?

Beberapa jawaban siswa adalah:

-    Karena siswa tertarik dengan media pembelajaran yang nyata dan bisa bisa belajar sambil bermain

b. Guru menanyakan pendapat siswa terhadap soal-soal pos tes pada siklus II

Jawaban siswa antara lain:

-            Siswa senang menjawab soal karena bentuk soal isian

-            Siswa senang menjawab karena soal yang diajukan dibahas waktu proses pembelajaran.

 

B. Pembahasan.

Untuk lebih jelasnya hasil dari kegiatan yang telah dilaksanakan dalam penelitian tindakan kelas ini diuraikan pada sub-sub pembahasan laporan ini. Keberhasilan dan Kendala yang ditemukan pada tahap tindakan penelitian ini secara lebih rinci dapat tergambar menurut siklus-siklus yang telah dilaksanakan sebagai berikut.

1. Siklus I

1.1 Persiapan Mengajar.

Hasil obsevasi mengenai persiapan mengajar dari instrumen observasi kegiatan guru diperoleh gambaran bahwa persiapan mengajar yang dibuat guru belum menggambarkan kegiatan pembelajaran yang aktif dan kreatif.

Berdasarkan indikator keberhasilan dalam penelitian ini yang dimaksud pembelajaran yang aktif dan kreatif adalah siswa secara aktif menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru serta guru dengan optimal dengan alat Bantu/media pembelajaran yang diperlukan dalam persiapan mengajar. Siklus ini tidak diuraikan aktivitas siswa dalam pemebelajaran dan aktvfitas guru dalam proses penggunaan alat bantu/media pembelajaran.

Kegiatan-kegiatan yang terlaksana dalam kegiatan belajar mengajar belum tertulis dalam persiapan mengajar, karena guru beranggapan bahwa persiapan mengajar dirancang sesingkat mungkin sehingga menulis kegiatan-kegiatan pokok saja.

1.2 Kesiapan Menerima Pelajaran.

Terlihat bahwa kesiapan siswa menerima pelajaran belum optimal hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa yang tidak membawa perlengkapan seperti buku IPA. Jika dihitung prosentase rata-rata kesiapan siswa menerima pelajaran adalah 55% siswa membawa buku IPA dan 45% siwa tidak membawa buku IPA. Adapun alasannya siswa tidak membawa buku IPA adalah tidak mendengar perintah guru 45%, tidak mempunyai buku paket IPA 30 % dan alasan lupa 25%.

1.3 Kegiatan Belajar Mengajar.

Dari hasil observasi proses kegiatan belajar mengajar (instrumentobservasi kegiatan siswa) diperoleh gambaran bahwa:

  1. Siswa banyak mencatat materi yang dikemukakan guru.
  2. Sedikitnya siswa yang mengajukan pertanyaan.
  3. Kurangnya siswa yang mengajukan pertanyaan.
  4. Kurangnya siswa yang mengangkat tangan.
  5. Kurangnya siswa yang menyanggah jawaban siswa lain.
  6. Kurangnya siswa yang lebih senang dengan belajar seperti itu.
  7. Banyaknya siswa yang mengganggu siswa lain.

Dari gambaran hasil obsevasi tersebut tersebut membuktikan kurang aktif dan kreatifnya siswa dalam proses belajar mengajar.

Guru Kurang memotivasi siswa terutama siswa-siswa yang terindentifikasi lamban dalam menerima pelajaran karena siswa tersebut cenderung tertutup dan tidak menunjukkan aktifitas yang dapat melancarkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Sedangkan hasil pengamatan instrumen observasi kegiatan guru diperoleh hasil sebagai berikut.

a. Guru kekurangan waktu dalam menyampaikan pelajaran karena ketidak sesuaian alokasi waktu dengan luasnya materi.

b. Kurangnya penggunaan alat peraga.

c.  Kurangnya guru memotivasi siswa sehingga proses belajar mengajar kurang efektif.

d.  Kurangnya guru membimbing siswa yang mengalami kesulitan sehingga kelas smenjadi pasif.

e.  Guru kurang melibatkan siswa dalam penggunaan alat peraga sehingga murid kurang aktif .

1.4   Hasil Belajar.

Setelah pembelajaran selesai maka dilakukan test untuk mengukur kemampuan siswa menyerap materi pelajaran. Sekor rata-rata dari 40 siswa adalah dapat dilihat pada tabel berikut.

No.

Skor

Jumlah siswa

Jumlah Skor

1.

2.

3.

4.

5.

60

65

70

75

-

20

6

18

10

-

1200

390

1260

750

-

Jumlah

54

3600

Skor rata-rata siswa adalah 2600 :54 = 66,66 artinya daya serap siswa terhadap materi pelajaran pada siklus ini adalah 67%.

Hasil belajar siswa yang tergolong rendah sedang ini disebabkan karena kurang tertariknya siswa terhadap materi pelajaran.

1.5   Refleksi.

Proses pembelajaran yang aktif dan kreatif dapat diwujudkan dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada baik berupa alat bantu atau media, kemampuan guru dan siswa. Hasil observasi pada siklus ini baik kegiatan guru maupun kegiatan siswa dijadikan bahan dalam menentukan tidakan selanjutnya yaitu:

  • Ø Persiapan mengajar yang dibuat belum menggambarkan pembelajaran yang aktif dan kreatif.
  • Ø Kurangnya motivasi guru terhadap siswa.
  • Ø Kurangnya alat peraga dalam menyampaikan materi.
  • Ø Alokasi waktu tidak sesuai dengan luasnya materi.
  • Ø Kurangnya metode proses belajar mengajar (hanya menggunakan ceramah dan Tanya jawab).

Berdasarkan hasil refleksi dari kegiatan/tindakan pada siklus I dapat dilanjutkan dengan tindakan pada siklus II dengan memperhatikan rekomendasi sebagai berikut.

  1. Persiapan mengajar disusun selengkapnya dana sedetil mungkin, sehingga persiapan mengajar tersebut dapat menggambarkan pembelajaran yang altif dan kreatif.
  2. Meningkatkan motivasi guru terhadap siswa terutama bagi siswa yang memiliki kemampuan lamban dalam menerima pelajaran.
  3. Menggunakan alat peraga yang menarik bagi siswa dan sesuai dengan materi pelajaran.
  4. Mengalokasikan waktu yang sesuai dengan luasnya materi pelajaran.
  5. Menggunakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi seperti ceramah, Tanya jawab dan diskusi kelas.

2. Siklus II

2.1 Persiapan Mengajar.

Hasil observasi pembelajaran menggambarkan pembelajaran yang dirancang adalah pembelajaran yang aktif dan kreatif. Pembelajaran yang aktif dan kreatif disini adalah pembelajaran yang mengutamakan aktivitas siswa dan merangsang kreatifitas untuk menggali informasi penting dari hasil kegiatannya tersebut. Setiap aktivitas guru dapat diikuti oleh aktivitas siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pada siklus ini guru menetapkan satu indikator pembelajaran yaitu: mendeskripsikan bagian-bagian penyebab perubahan lingkungan fisik.

2.2 Kesiapan Menerima Pelajaran

Berdasarkan observasi kesiapan siswa menerima pelajaran menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat terlihat dari siswa membawa perlengkapan utama seperti buku pelajaran IPA dari 55% menjadi 75%. Sehingga hal tersebut sedikit mengganggu karena siswa saling pinjam buku. Siswa sudah membawa buku paket masing-masing. Hal ini ditunjukkan dengan tema yang dipelajari, siswa mampu menggali informasi penting tentang bagian-bagian penyebab perubahan lingkungan fisik dari pengamatan gambar.

Siswa sudah tidak lagi sibuk sendiri karena siswa tertarik dengan alat peraga yang digunakan guru.

Kesiapan siswa menerima pelajaran menunjukkan peningkatan yang berarti. Salah satu indikatornya adalah semakin sedikitnya siswa yang tidak mampu menjawab test yang diberikan guru dan informasi yang disampaikan guru semakin jelas dan dengan mudah difahami oleh siswa. Dengan motivasi dan bimbingan guru sisw merasa tertarik untuk mempelajari panca indera.

Jenis penugasan individu/mandiri sehingga siswa yanag tidak membawa buku paket atau perlengkapan lain Akan mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugasnya yang tidak mungkin dapat dibebankan kepada teman yang lain.

2.3 Kegiatan Belajar Mengajar

Dari observasi proses kegiatan belajar mengajar menggunakan instrumen observasi kegiatan guru dan kegiatan siswa diperoleh gambaran terjadinya peningkatan semangat dan aktivitas siswa yang semula kurang aktif bertanya dan menanggapi pertanyaan guru maupun temannya. Kenaikan aktivitas dan semangat siswa ini diduga merupakan hasil perubahan/perbaikan aktivitas guru antara lain:

a. Memotivasi siswa selama mengikuti proses pembelajar terutama bagi siswa yang mengalami keterlambatan dalam menangkap pelajaran. Dalam hal ini guru memberikan perhatian dan bimbingan yang lebih saat melaksanakan tugas yang diberikan dengan cara memberikan pengamatan dan penjelasan-penjelasan yang lebih rinci.

b.  Guru Berperan sebagai fasilitator dalam menciptakan interaksi antar siswa selama pembelajaran sehingga siswa termotivasi dan merasa tertentang untuk mmengajukan pertanyaan atau menyamapaikan ide atau gagasannya. Tiga orang siswa, yang ditunjuk guru sebagai perwakilan dari kelompok siswa yang kurang, sedang dan pintar, mempersentasikan hasil kerjanya.

2.4     Hasil Belajar

Pada akhir siklus II dilaksanakan test untuk mengukur kemampuan daya serap siswa. Skor rata-rata seluruh siswa tergambar pada tabel berikut.

No.

Skor

Jumlah siswa

Jumlah Skor

1.

2.

3.

4.

5.

6

60

65

70

80

90

95

10

10

3

10

11

10

600

650

210

800

990

950

Jumlah

54

4200

Rata-rata skor siswa adalah 4200: 54 = 77,77

Daya serap siswa pada siklus ini adalah 78% dibandingkan dengan skor rata-rata seluruh siswa pada siklus I (67). Peningkatan ini diduga karena materi pada siklus II lebih menarik dan menggunakan media pembelajaran serta menggunakan metode yang lebih kreatif yaitu demontrasi yang di lakukan oleh siswa itu sendiri.

2.5 Refleksi

Analisis hasil observasi dan tes tersebut menyimpulkan bahwa pembelajaran secara umum telah mengalami peningkatan. Aktifitas guru yang meningkat menjadikan pembelajaran menjadi aktif dan kreatifitas. Siklus berikutnya perlu dilakukan untuk meningkatkan aktifitas guru dan aktifitas siswa yang masih kurang, kemudian meningkatkan skor rata-rata hasil belajar.

Berdasarkan hasil refleksi dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus II dapat direkomendasikan beberapa hal yang perlu dilaksanakan pada siklus berikutnya, yaitu:

a. Meningkatkan aktivitas guru dalam hal memotivasi siswa, guru dan keaktifan siswa.

b.  Menambah metode mengajar dengan demontrasi.

c. Meningkatkan skor hasil belajar siswa dengan cara membuat soal pilihan ganda dan bentuk lisan.

2.6   Wawancara Guru dengan Siswa

Setelah melihat hasil belajar siswa yang cukup tinggi pada silus ini, guru melakukan wawancara singkat dengan siswa guna mengumpulkan informasi mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam menyelesaikan soal. Pada siklus II ini juga diadakan wawancara guru dengan siswa dengan tujuan yang berbeda. Pada siklus ini prestasi hasil belajar siswa meningkat cukup tinggi, tugas terselesaikan dengan cepat dan aktifitas presentasi lancar.

Wawancara dilaksanakan dengan cara menanyakan kepada siswa secara umum dan siswa menjawabnya bergiliran dan beberapa siswa menjawab secara serempak. Adapun hasil wawancara tersebut antara lain:

a. Guru menanyakan mengapa hasil pos testnya tinggi.

    Beberapa jawaban siswa adalah:

-      Karena siswa tertarik media pembelajaran yang nyata dan bisa belajar sambil bermain

b. Guru menanyakan bagaimana pendapat siswa terhadap soal-soal pos test    pada siklus II ….?

Jawaban siswa antara lain:

-            Siswa senang menjawab soal karena bentuk soal isian

-            Siswa senang menjawab karena soal yang diajukan dibahas waktu proses pembelajaran.

Hasil wawancara dengan siswa yang dilakukan oleh guru sangat berguna untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada mata pelajaran lain.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang diperoleh selama melaksanakan penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas telah menciptakan perubahan kearah yang positif. Perubahan itu meliputi perubahan pada siswa dan perubahan pada guru.

Perubahan yang terjadi pada siswa terlihat pada meningkatnya minat siswa dalam proses belajar mengajar yang diikuti dengan meningkatnya hasil prestasi belajar siswa pada materi pokok pancaindra. Indikator ini dapat terlihat pada:

-       Kesiapan belajar siswa semakin meningkat.

-       Siswa semakin aktif dalam mengikuti proses pembelajaran terbukti dengan banyaknya siswa bertanya dan menanggapi pertanyaan siswa lain.

-       Banyaknya siswa yang merasa lebih senang belajar dengan berada di luar kelas.

Perubahan yang terjadi pada guru peneliti adalah guru mengalami peningkatan kinerja dalam proses pemebelajaran terutama dalam penggunaan media pembelajaran. Dalam penelitian ini guru semakin meningkat aktivitasnya dalam menggunakan charta sebagai media atau alat bantu dalam setiap pembelajaran lingkungan fisik. Indikator ini dapat terlihat pada:

-       Merencanakan persiapan proses pengajaran dengan sebaik-baiknya sehingga tercapai pembelajaran yang aktif dan kreatif.

-       Meningkatkan motivasi guru terhadap siswa dalam pembelajaran sehingga minat siswa belajar meningkat pula.

-       Meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga mutu hasil belajar siswa meningkat.

Perubahan kearah yang positif tidak hanya terjadi pada siswa dan guru peneliti saja tetapi juga pada guru mitra. Perubahan tersebut berupa semakin meningkatkan kegiatan observasi yang dilaksanakan, demikian pula kualitas temuan-temuan yang diperoleh selama proses tindakan yang dijadikan dasar bagi perbaikan pada proses pembelajaran berikutnya baik di kelas penelitian maupun di kelas guru mitra mengajar.

  1. c.    Saran.

Sehubungan dengan hasil penelitian ini, peneliti mengemukakan beberapa saran dalam usaha meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan khususnya pada materi pokok lingkungan fisik dan pelajaran IPA pada umumnya sebagai berikut:

  1. Diharapkan guru mengajar materi lingkungan fisik, serta menerapkan strategi belajar dengan menggunakan media lingkungan nyata karena dapat meningkatkan minat, motivasi, dan hasil belajar siswa.
  2.  Diharapkan guru membiasakan mempresentasikan hasil kerja siswa di depan kelas kemudian mengomentari kekurangan dan kelebihan hasil kerja tersebut.
  3. Karena hasil yang dicapai melalui penelitian tindakan kelas ini nyata dan positif, maka diharapkan pada kelas-kelas lain bahkan di sekolah lain dapat menerapkan strategi belajar/tindakan tersebut dalam proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad Azhar. 2003. Media Pembelajaran. Jakarata : PT. Raja Cerapindi Persada.

Depdiknas. Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2005. HakekatSains. Jakarta

Depdiknas. Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta

Djamarah, Syaiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.

Djamarah, Syaiful Bahri, dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta

Pasaribu dan B.Simandjuntak. 1982, Proses Belajar mengajar. Jakarta: Rasito.

Roestiyah . 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

Sardiman A.M, 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers

Susilo Herawati, 1999, Peta Konsep, Alat Pembelajaran Yang penting Untuk Pembelajaran Sains Dengan Filosofi Konstruktivisme, Malang

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar